On The Other Hand, Jakarta … .

jakarta

 

Siapa di negeri ini yang tak mengenal Jakarta? Ibukota Indonesia ini seakan menjadi tanah harapan untuk merubah garis kehidupan bagi sebagian besar orang di berbagai wilayah dan kepulauan. Berduyun-duyun orang pergi ke Jakarta berharap mendapat pekerjaan atau bertemu dengan kehidupan ekonomi yang lebih mapan.

Jakarta tidak hanya itu! Meskipun Ibukota ini sangat kental dengan aura ekonomi yang berimplikasi pada ledakan penduduk dan macet di jalan-jalan —bahkan beberapa hari ini Ibukota lumpuh karena banjir— masih ada keindahan dan pesona yang dapat ditemukan di sini. Hal menarik yang bisa disingkap dari Jakarta terutama adalah aspek toleransi dan kerukunan hidup antar-pemeluk agama.

Representasi toleransi dan kerukunan hidup antar-pemeluk agama di Jakarta dapat ditilik dari letak keberadaan Masjid Istiqlal dengan Gereja Katedral yang berada di Bagian Pusat Jakarta.

Masjid Raya Istiqlal yang didirikan pada zaman Presiden Soekarno berdampingan dengan Gereja Katedral yang merupakan bangunan Belanda. Pada saat umat muslim merayakan hari raya Idul Fitri, halaman parkir di Gereja Katedral sering kali dijadikan tempat parkir umat muslim yang ingin melakukan salat hari raya di Masjid Istiqlal. Begitupun sebaliknya saat Hari Natal dan Paskah Masjid Istiqlal selalu dijadikan tempat parkir kendaraan bagi umat Katolik yang akan menjalani Misa.

Dengan segala kekurangan yang ada di Ibukota, yuk kita liat dari sudut pandang lain bahwa masih ada kelebihan dari Ibukota/

Bagi warga Jakarta dan Pesisir Jakarta, “Nyok rame-rame kite bangun Ibukota nyang makin baik”

Tenggelam dalam Keseharian

foto 1

Kehidupan seperti biasa memiliki cakrawalanya sendiri. Cakrawala dapat membuat segala sesuatu menjadi terlihat, sebaliknya juga dapat menyembunyikan. Yang dapat terlihat adalah rutinitas harian dengan bunyinya yang sudah tidak asing —seperti bunyi dari meja makan saat sarapan atau makan malam, dsb. Bertahun-tahun manusia bekerja untuk memenuhi kebutuhan hidupnya. Tidak hanya itu, para kawula muda juga hanyut dalam aktivitas akademisnya ataupun kegiatan lain. Kesadaran kita beralih dari tugas ke tugas, berfokus pada tenggat waktu, dan pada akhirnya diri ini dipadamkan dengan kesibukan. Kadang-kadang keadaan bisa berubah cukup drastis. Kalau sudah begitu manusia baru memikirkan apa artinya. Kalau kita menoleh ”ke belakang”, kita menyadari bagaimana krisis itu membawa penjelasan kecenderungan mengapa manusia tenggelam oleh kesehariannya. Apa yang tidak terlihat, pada masa-masa perubahan tersebut menjadi terlihat. Kalau dulu manusia hanya memerhatikan yang rutin saja, adakalanya sekarang ia memikirkan saat ini. Tidak terlalu baik jika lebih menganggap diri sebagai pekerjaannya, kertas kerja nyata, prestasi, nilai, laporan. Manusia menjadi tidak sempat berbicara dengan sesamanya, lupa berdoa dan berucap syukur, mampu membayar tapi tidak mempunyai waktu untuk melayani, atau bahkan tidak sempat hanya sekedar menyapa alam. Ya, kita lupa! Tuhan membangun manusia dan kehidupan. Dari bencana timbul ucapan syukur dan perhatian, dari alam dapat terlihat kesederhanaan. Apa yang seharusnya ada, sudah ada. Kita hanya lupa!

Category: Jakarta  Leave a Comment

Hello world!

Welcome to Student.ipb.ac.id. This is your first post. Edit or delete it, then start blogging!